Jumat, 18 Juni 2010

WACANA SENI RUPA KONTEMPORER






Selasa, 15 Juni 2010 - 16:27
Discoursing Contemporaneity
oleh Jim Supangkat


Lukisan Awi Ibanesta, seniman otodidak asal Wonosobo, Jawa Tengah. Karya ini sekadar dipajang sebagai "foto", bukan untuk menjelaskan atau menderivasikan gagasan dalam artikel di bawah ini. (foto: kuss indarto)
SEJARAWAN seni rupa terkemuka Hans Belting melihat global contemporary art sebagai “global art” yang harus dibedakan dari “world art”. Bagi Hans Belting pengertian world art mencerminkan pemahaman modernisme yang hegemonik. (1)

Dalam pembacaan saya pengertian world art berpangkal pada pemikiran modern tentang realitas dalam lingkup universal. World art adalah Western art yang di-claim berlaku di seluruh dunia setelah dikukuhkan sebagai modern art. Asumsi ini berhenti pada claim karena tidak menjadi universal reality. Tidak pernah dikaji bagaimana modernisme mengalami translasi dan transformasi di luar Eropa dan Amerika Serikat dan menjadi modernisme yang berbeda. Kendati modern art yang bertumpu pada modernisme dikenal juga di seluruh dunia tidak bisa dipastikan apakah modernisme—a complicated discourse—sesungguhnya dipahami dan kemudian dianut di luar Eropa, Amerika.

Global art, menurut Hans Belting sama sekali bukan tanda-tanda munculnya kenyataan yang diprediksi unversalisme. Global art muncul karena sebab-sebab ekonomi. Perkembangannya di art market tidak peduli pada keseragaman yang diyakini universalisme. Bisnis membuat global contemporary art mempedulikan kekuatan lokal demi bisnis (memperhitungkan persepsi publik, persepsi kolektor dan seniman) dan kemudian merayakan perbedaan. Karena itu globalisme, kata Hans Belting, adalah anti-thesis universalisme. (2)

Dalam pembacaan saya gagasan Hans Belting membedakan “world art” dan “global art” bukan hanya membedakan modern art dan contemporary art. Pembedaan ini meliputi pula pembedaan “contemporary art“ dengan “global contemporary art”. Bila dibaca lengkap “contemporary art” tidak lain adalah “world contemporary art”. Dalam sudut pandang ini “world contemporary art” adalah kelanjutan “world modern art” sekalipun dalam banyak pandangan hubungan ini disangkal karena contemporary art disebut-sebut berada pada platform baru yang sama sekali lain.

Maka “world contemporary art” mengandung pengertian hegemonik juga. Tandanya yang sampai sekarang diyakini adalah perubahan besar dari seni rupa modernis ke seni rupa post-modernis. Seperti modernisme tanda ini (perubahan dari seni rupa modernis ke seni rupa post modernis) tidak bisa dipastikan apakah dipahami sepenuhnya di luar Eropa dan Amerika Serikat.

Melihat world contemporary art sebagai kontinuitas world modern art membangkitkan kesadaran bahwa world contemporary art kembali berhenti pada claim dan tidak menjadi kenyataan. Model contemporary art yang berkembang di Eropa, Amerika Serikat tidak bisa ditemukan di luar Eropa, Amerika Serikat. Kemungkinannya, contemporary art di luar Eropa, Amerika Serikat, ada tapi tidak sepenuhnya dipahami, atau ada sebagai copy yang tidak bermakna. Di sini, pengertian global contemporary art menjadi berarti. Pertanyaan “what is contemporary art ” harus diubah menjadi “what is global contemporary art ” Hans Belting mengemukakan pertanyaan ini akan menyuruk ke pertanyaan mendasar dan terbuka untuk berbagai kemungkinan yaitu “what is art in global sense.” (3)

Buku Terry Smith, What is Contemporary Art? Mungkin buku paling komprehensif dalam menguraikan tanda-tanda perkembangan seni rupa kontemporer pada dekade 1990 dan dekade awal 2000. Buku ini memasukkan kajian art market dalam tegangan global-local, membahas sejarah seni rupa dan perkembangan museum dalam pertentangan modern-contemporary, dan, benturan arus perkembangan Utara-Selatan dalam kajian post-colonial. Dalam pengamatan saya contemporary art dalam buku ini dibahas baik sebagai world contemporary art maupun sebagai global contemporary art.

Saya melihat ruang antara (space in between) yang terletak di antara world contemporary art dan global contemporary art pada kajian Terry Smith. Ruang antara ini tercermin pada pembahasan contemporaneity yang disebut, “[...] the most evident attribute of the current world picture [...]”. Terry Smith menulis,

Within contemporaneity, it seem to me, at least three sets of forces contend, turning each other incessantly. The first is globalization itself, above all, its thrists for hegemony in the face of increasing cultural differentiation (the multeity that was realesed by decolonization), for control of time in the face of the proliferation of asynchronous temporalities, and for continuing exploitation of natural and (to a degree not yet seen) visual resources against the increasing evidence of the inability of those resources to sustain this exploitation. Secondly, the inequity among peoples, classes, and individuals is now so accelerated that it threatens both the desires for dominations entertained by states, ideologies, and religious and the persistent dreams of liberation that continue to inspire individuals and peoples. Thirdly, we are all williynilly immersed in a infoscope—or better, a spectacle, an image economy or a regime of representations—capable of the instant and thoroughly mediated communication of all information and any image anywhere. (4)

Dari pandangan itu saya tertarik khususnya pada penghubungan contemporaneity dengan tegangan (tensions) di antara globalization yang membawa tanda-tanda hegemony dengan multeity that was realesed by decolonization. Tegangan ini menunjukkan pertarungan image global contemporary art yang sekarang ini terjadi. Pertarungan image ini berpangkal pada pertanyaan: apakah global contemporary art memunculkan keseragaman atau justru keragaman.

Keyakinan yang melihat global contemporary art memunculkan keseragaman melihat global contemporary art berdasarkan faktor spatial dengan menekankan the present. Di sini global contemporary art mempunyai makna yang tetap dan pasti karena tidak dipengaruhi faktor temporal yang membuat makna menjadi tidak tetap dan cenderung terus berubah. Keyakinan ini bahkan cenderung memutuskan the present dari sejarah (selain dipengaruhi faktor spatial dan temporal, sesuatu makna selalu dipengaruhi sejarah pengertiannya). Ini tercemin pada upaya meninggalkan predikat “contemporary” dan menggantinya dengan predikat “now” yang mencerminkan penekanan the present. Maka muncul kemudian istilah-ilstiah global art now dan art now yang sekarang semakin banyak digunakan. Saya rasa gejala ini ada hubungannya juga dengan kecederungan art market—yang dominan pada dekade awal 2000—untuk meminggirkan contemporary art discourses.

Pada arus baru yang percaya pada keseragaman itu tidak ada masalah dengan pengertian contemporaneity yaitu the quality of belonging the same period of time,” dan “the quality of being current or of the present.” (5)

Bagi saya, pengertian contemporaneity di sebaliknya mengandung masalah karena saya percaya bahwa gobal contemporary art justru memunculkan keragaman dan keragaman inilah yang membedakannya dari world contemporary art. Karena itu saya cenderung “membuka” pembahasan contemporaneity dan menempatkannya pada tingkat mediasi—discoursing contemporaneity—untuk menjelajahi persoalan multeity.

Pada perkembangan seni rupa kontemporer upaya menampilkan multeity itu dilakukan Jean-Hubert Martin melalui pameran menghebohkan, Les Magiciens de la Terre di Pusat Kebudayaan Pompidou, Paris pada tahun 1989. Pada pameran ini Jean-Hubert Martin mendampingkan karya-karya seni rupa kontemporer dengan karya-karya seni rupa tradisional antara lain instalasi tanah pendeta-pendeta Tibet, dan, lukisan perempuan-perempuan Uttar Pradesh, India yang menggunakan bidang lukisan menyerupai kanvas.

Pameran itu memunculkan kontroversi panjang dan dibahas selama bertahun-tahun di fora contemporary art. Pada kontroversi ini Jean-Hubert Martin diserang dunia seni rupa di Prancis dan di dunia. Sesudah itu percobaan Jean-Hubert Martin tidak berlanjut pada perkembangan seni rupa kontermporer.

Gejala itu menunjukkan cara paling umum memahami multeity dan membuat contemporaneity yang terpusat pada pertanyaan sama-tidaknya seni rupa kontemporer dengan “seni rupa kontemporer” etnik menjadi tidak bisa dibahas. Masalahnya terletak pada pada kata “quality” pada pengertian umum contemporaneity, “Dalam contemporary art discourses “quality” ini bertumpu pada art in Western sense yang tentunya tidak bisa disamakan dengan ”quality” yang bertumpu pada ethnic art sensibilities. Di sini pembahasan contemporaneity menghadapi kebuntuan karena tidak ada platform untuk membahas secara simultan art in Western sense dan art in ethnic sensibilities yang kajiannya terkurung dalam lingkup etnologi dan antropologi dari zaman kolonial sampai sekarang. (6) Dilema ini tidak bisa dilepaskan dari modern thinking sensibilities di mana commensurability yang mendasari semua pemikiran modern mengalami benturan dengan incommensurability thesis yang dipegang para etnolog dan antropolog.

Pada perkembangan seni rupa modern pertanyaan, “apakah art in ethnic sensibilities bisa disamakan dengan art in Western sense” bisa dengan tegas dijawab, “tidak” karena dalam modernisme modernitas diyakini adalah kontradiksi tradisionalitas. Pada perkembangan seni rupa kontemporer yang menentang modernisme, pertanyaan ini seharusnya mencari jawaban yang berbeda. Namun pada kenyataannya, pertanyaan ini tidak bisa dijawab.

Gejala ini menunjukkan masih berpengaruhnya visi modern bahkan visi kolonial dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Karena itu saya cenderung tidak mencoba menjawab pertanyaan “apakah art in ethnical sensibilities bisa disamakan dengan art in Western sense”. Saya justru mempertanyakan mengapa pembahasan contemporaneity pada global contemporary art harus kembali ke pertanyaan ini?

Kendati saya tidak meninggalkan persoalan art in ethnic sensibilities saya meninggalkan upaya membanding-bandingkannya dengan art in Western sense. Saya cenderung mencari jalan memutar dengan membandingkan perkembangan contemporary art, inside dan outside Eropa dan Amerika Serikat. Contemporary art adalah wilayah di mana perbandingan ini bisa dilakukan untuk menemukan baik kebedaan mau pun kesamaan. Di wilayah seni rupa modern tidak ada ruang untuk perbandingan ini.

Perbandingan itu tidak berhenti pada the present. Perbandingan ini melibatkan pengkajian sejarah bagaimana contemporary art muncul, inside dan outside Eropa, Amerika Serikat. Kemudian lebih jauh melihat kembali perkembangan seni rupa sebelum kemunculan seni rupa kontemporer. Di sini mundur lebih ke belakang lagi ke pencarian tanda-tanda pada Abad ke 19 di mana modern thinking sensibilties dan visi kolonial berpangkal. Pada Abad ke 19 bisa ditemukan pula, pangkal adaptasi pemikiran modern di luar Eropa, Amerika Serikat, dan bagaimana pemikiran ini diterjemahkan dan mengalami transformasi. Termasuk di sini adaptasi dan penerjemahan art in Western sense.

Dari perbandingan itu bisa ditemukan kebedaan maupun kesamaan perkembangan seni rupa sejak Abad ke 19. Dari perbandingan ini akan terlihat bahwa di luar Eropa dan Amerika Serikat berkembang seni rupa modern yang lain di mana tidak ada kesadaran memisahkan modern art sensibilities dengan ethnic art sensibilities yang menandakan penolakan kontradikisi modernitas dan tradisionalitas. Karena itu pengaruh ethnic art sensibilities bisa ditemukan. Akan terlihat pula bahwa perbedaan modern art dan contemporary art ternyata tidak tajam. Kehadiran ethnic art sensibilities pada seni rupa kontemporer merupakan kelanjutan perkembangan sebelumnya dan bukan karena “reaksi” pada pertentangan modernisme dan pemikiran-pemikiran postmodern.

Tanda-tanda itu menunjukkan pada perkembangan seni rupa kontemporer di luar Eropa, Amerika Serikat pertanyaan, sama-tidaknya seni rupa kontemporer dengan “seni rupa kontemporer” etnik bukan pertanyaan yang dilematis dan bisa menghasilkan jawaban yang masuk akal. Uraian pada jawaban ini akan menunjukkan kedudukan ethnic art sensibilities pada seni rupa kontemporer yang lepas dari modernisme dan visi kolonial. Uraian ini bisa digunakan juga untuk mengkaji keragaman pada seni rupa kontemporer dan mempersoalkan multeity pada global contemporary art.

Catatan kaki:

(1) “Contemporary Art as Global Art, A Critical Estimate,” Hans Belting. Dalam The Global Art World. Audiences, Markets and Museums. Hans Belting, Andrea Buddensieg (ed.). Hatje Cantz. Ostfinden. 2009. pp. 38-73.
(2) Ibid.
(3) Keynote speech seminar, “A New Geography of Art in the Making” yang diselenggarakan Center for Art and Media, Karlsruhe bersama Göethe Institute di Hongkong 21- 22 Mei, 2009.
(4) What is Contemporary Art? Terry Smith. University of Chicago. Chicago-London.2009. pp. 5-6
(5) Wikipedia.
(6) Gejala ini bisa dilihat pada tulisan Denis Dutton, “But They Don’t Have Our Concept of Art”. Dalam Theoreis of Art Today. Noël Caroll. (ed). The University of Wisconsin Press. London. 2000. pp.217-238
*) Ketua Tim Juri Indonesia Art Award (IAA) 2010