Senin, 22 Maret 2010

MAKALAH FILSAFAT ILMU

sebuah makalah

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN

dosen : Dr. M Subandowo

Oleh : Sutikno hamzah

NIM : 090020207

Kelas E

Program Pasca Sarjana

Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
2
0
1
0






APA ILMU DAN APA YANG DINAMAKAN FILSAFAT

Hubungan ilmu dan Filsafat

1. Pengertian Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa Arab, ‘alama. Arti dasar dari kata ini adalah pengetahuan. Penggunaan kata ilmu dalam proposisi bahasa Indonesia sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Kata science itu sendiri memang bukan bahasa Asli Inggris, tetapi merupakan serapan dari bahasa Latin, Scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa science berasal dari kata scientia yang berarti pengetahuan. Scientia bersumber dari bahasa Latin Scire yang artinya mengetahui.

1 Terlepas dari berbagai perbedaan asal kata, tetapi jika benar ilmu disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris, maka pengertiannya adalah pengetahuan. Pengetahuan yang dipakai dalam

2 Secara umum pengertian dari kata “tahu”
ini menandakan adanya suatu pengetahuan yang didasarkan atas pengalaman dan pemahaman tertentu yang dimiliki oleh seseorang.

8

3 Pendapat yang sama diungkapkan M. Quraish Shihab. Ia berpendapat bahwa ilmu berasal dari bahasa Arab, ilm. Arti dasar dari kata ini adalah kejelasan. Karena itu, segala bentuk kata yang terambil dari kata ‘ilm seperti kata ‘alm (bendera), ‘ulmat (bibir sumbing), ‘alam (gunung-gunung) dana ‘alamat mengandung objek pengetahuan. Ilmu dengan demikian dapat diartikan sebagai pengetahuan yang jelas tentangsesuatu.

4 Athur Thomson mendefinisikan ilmu sebagai pelukisan fakta-fakta, pengalaman secara lengkap dan konsisten meski dalam perwujudan istilah yang sangat sederhana.

5 S. Hornby mengartikan ilmu sebagai: Science is organized knowledge obtained by observation and testing of fact (ilmu adalah susunan atau kumpulan pengetahuan yang diperoleh melalui penelitian dan percobaan dari fakta-fakta.

6 Kamus bahasa Indonesia, menerjemahkan ilmu sebagai pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu pula. Kamu ini juga menerangkan bahwa ilmu dapat diartikan sebagai pengetahuan atau kepandaian tentang soal duniawi, akhirat, lahir dan bathin.
Poincare menyebutkan bahwa ilmu berisi kaidah-kaidah dalam arti definisi yang tersembunyi (science consist entirely of convertions in the sence of disguised definitions). Pengertian dan kandungan ilmu yang dicoba ditawarkan Poincare ini,

9

harus pula diakui memperoleh penolakan dari berbagai ahli. Bahkan ada anggapan yang menyatakan bahwa pikiran Poincare ini merupakan kesalahan besar. Le Ray seolah menjadi antitesis dari pemikiran Poincare. Le Ray misalnya menyatakan bahwa “Science consist only of consecrations and it is solely to this circumstance that is owes its apparent certainly”. Le Ray juga menyatakan bahwa science cannot teach us the truth, it’s can serve us only as a rule of action (ilmu tidak mengajarkan tentang kebenaran, ia hanya menyajikan sejumlah kaidah dalam berbuat.

7 Dari beberapa definisi ilmu di atas, maka, kandungan ilmu berisi tentang; hipotesa, teori, dalil dan hukum.
Penjelasan di atas juga menyiratkan bahwa hakekat ilmu bersifat koherensi sistematik. Artinya, ilmu sedikit berbeda dengan pengetahuan. Ilmu tidak memerlukan kepastian kepingan-kepingan pengetahuan berdasarkan satu putusan tersendiri, ilmu justru menandakan adanya satu keseluruhan ide yang mengacu kepada objek atau alam objek yang sama saling berkaitan secara logis.
Setiap ilmu bersumber di dalam kesatuan objeknya. Ilmu tidak memerlukan kepastian lengkap berkenaan dengan penalaran masing-masing orang. Ilmu akan memuat sendiri hipotesis-hipotesis dan teoriteori yang sepenuhnya belum dimantapkan. Oleh karena itu, ilmu membutuhkan metodologi, sebab dan kaitan logis. Ilmu menuntut pengamatan dan kerangka berpikir metodik serta tertata rapi. Alat bantu metodologis yang penting dalam konteks ilmu adalah terminology ilmiah

10


Filsafat ilmu Tentang Hubungan ilmu dan Filsafat


2.Pengertian Filsafat


Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia dan philoshophos. Menurut bentuk kata, philosophia diambil dari kata philos dan shopia atau philos dan sophos. Philos berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan, pengetahuan, dan hikmah. Dalam pengertian ini seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila seluruh ucapannya dan perilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan terhadap hikmah.8
Pada awalnya, kata sofia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan, seperti perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan selanjutnya, makna dari kata kemahiran ini lebih dikhususkan lagi untuk kecakapan di bidang sya’ir dan musik. Makna ini kemudian berkembang lagi kepada jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Sofia dalam arti yang terakhir ini, kemudian dirumuskan oleh Pythagoras bahwa hanya Dzat Maha Tinggi (Allah) yang mampu melakukannya. Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat “pencipta kebijaksanaan”. Pythagoras menyatakan: “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untukmencapainya.”

11

9 Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, menurut Hadiwijono filsafat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan.

Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat ketika ia aktif memperoleh kebijaksanaan.Kata filsafat dalam pengertian ini lebih memperoleh kebijaksanaan. Kata filsafat dalam pengertian ini lebih berarti sebagai “Himbauan kepada kebijaksanaan”.

10 Harun Nasution beranggapan bahwa kata filsafat bukan berasal dari struktur kata Philos dan shopia, philos dan shophos atau filosofen. Tetapi kata filsafat berasal dari bahasa Yunani yang struktur katanya berasal dari kata philien dalam arti cinta dan shofos dalam arti wisdom. Orang Arab menurut Harun memindahkan kata Philosophia ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan tabi’at susunan kata-kata bahasa Arab, yaitu filsafat dengan pola (wajan) fa’lala, fa’lalah, dan fi’la. Berdasarkan wajan itu, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk kata benda seharusnya disebut falsafat atau Filsaf.11
Harun lebih lanjut menyatakan bahwa kata filsafat yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia, sebenarnya bukan murni berasal dari bahasa Arab sama seperti tidak murninya kata filsafat terambil dari bahasa Barat, philosophy. Harun justru membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu Fil diambil dari bahasa Inggris dan Safah dari bahasa Arab.

12

Sehingga kata filsafat, adalah gabungan antara bahasa Inggris dan Arab. Berfilsafat artinya berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya. Atas dasar itu, maka menurut Harun, secara etimologi filsafat dapat didefinisikan sebagai:


1.Pengetahuantentanghikmah
2.Pengetahuantentangprinsipataudasar
3.mencarikebenaran
4.MembahasdasardariapayangdibahasAliMudhafir berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki padanan kata Falsafah (Arab), Phyloshophy (Inggris), Philosophie (Jerman, Belanda dan Perancis). Semua kata itu, berasal dari bahasa Yunani Philosphia. Kata philosophia sendiri terdiri dari dua suku kata, yaitu Philien, Philos dan shopia.

Philien berarti mencintai, philos berarti teman dan sophos berarti bijaksana, shopia berarti kebijaksanaan.

Dengan demikian, menurut Ali Mudhafir ada dua arti secara etimologi dari kata filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philien dan shopos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (ia menjadi sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan shopia, maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat menjadi kata benda)

12 Makalah Filsafat ilmu Tentang Hubungan ilmu dan Filsafat

13

3.HubunganAntaraIlmudanFilsafat


Berbagai pengertian tentang filsafat dan ilmu sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka berikutnya akan tergambar pula. Pola relasi (hubungan) antara ilmu dan filsafat. Pola relasi ini dapat berbentuk persamaan antara ilmu dan filsafat, dapat juga perbedaan di antara keduanya.


Di zaman Plato, bahkan sampai masa al Kindi, batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan boleh disebut tidak ada. Seorang filosof pasti menguasi semua ilmu. Tetapi perkembangan daya pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praksis, berujung pada loncatan ilmu dibandingkan dengan loncatan filsafat. Meski ilmu lahir dari filsafat, tetapi dalam perkembangan berikut, perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung dengan kecanggihan teknologi, telah mengalahkan perkembangan filsafat. Wilayah kajian filsafat bahkan seolah lebih sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya, dibandingkan dengan wilayah kajian ilmu. Oleh karena itu, tidak salah jika kemudian muncul suatu anggapan bahwa untuk saat ini, filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan kurang relevan dikembangkan ole manusia. Sebab manusia hari ini mementingkan ilmu yang sifatnya praktis dibandingkan dengan filsafat yang terkadang sulit “dibumikan”. Tetapi masalahnya betulkah demikian?
Ilmu telah menjadi sekelompok pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis.

Tugas ilmu menjadi lebih luas, yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat observasi dan eksperimen.

14

13 Keinginan-keinginan melakukan observasi dan eksperimen sendiri, dapat didorong oleh keinginannya untuk membuktikan hasil pemikiran filsafat yang cenderung Spekulatif ke dalam bentuk ilmu yang praktis. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat diartikan sebagai keseluruhan lanjutan sistem pengetahuan manusia yang telah dihasilkan oleh hasil kerja filsafat kemudian dibukukan secara sistematis dalam bentuk ilmu yang terteoritisasi.

14 Kebenaran ilmu dibatasi hanya pada sepanjang pengalaman dan sepanjang pemikiran, sedangkan filsafat menghendaki pengetahuan yang koprehensif, yakni; yang luas, yang umum dan yang universal (menyeluruh) dan itu tidak dapat diperoleh dalam ilmu.
Lalu jika demikian, dimana saat ini filsafat harus ditempatkan? Menurut Am. Saefudin, filsafat dapat ditempatkan pada posisi maksimal pemikiran manusia yang tidak mungkin pada taraf tertentu dijangkau oleh ilmu. Menafikan kehadiran filsafat, sama artinya dengan melakukan penolakan terhadap kebutuhan riil dari realitas kehidupan manusia yang memiliki sifat untuk terus maju.15
Ilmu dapat dibedakan dengan filsafat. Ilmu bersifat pasteriori. Kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang. Untuk kasus tertentu, ilmu bahkan menuntut untuk diadakannya percobaan dan pendalaman untuk mendapatkan esensinya. Sedangkan filsafat bersifat priori, yakni; kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian. Sebab filsafat tidak mengharuskan adanya data emfiris seperti dimiliki ilmu. Karena filsafat bersifat spekulatif dan kontemplatif yang ini juga dimiliki ilmu. Kebenaran filsafat tidak dapat dibuktikan oleh filsafat itu sendiri,

15

tetapi hanya dapat dibuktikan oleh teori-teori keilmuan melalui observasi dan eksperimen atau memperoleh justifikasi kewahyuan. Dengan demikian, tidak setiap filosof dapat disebut sebagai ilmu, sama seperti tidak semua ilmuwan disebut filosof. Meski demikian aktifitas berpikir. Tetapi aktivitas dan ilmuwan itu sama, yakni menggunakan aktifitas berpikir filosof. Berdasarkan cara berpikir seperti itu, maka hasil kerja filosofis dapat dilanjutkan oleh cara kerja berfikir ilmuwan.

Hasil kerja filosofis bahkan dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu. Namun demikian, harus juga diakui bahwa tujuan akhir dari ilmuwan yang bertugas mencari pengetahuan, sebagaimana hasil analisa Spencer, dapat dilanjutkan oleh cara kerja berpikir filosofis.
Di samping sejumlah perbedaan tadi, antara ilmu dan filsafat serta cara kerja ilmuwan dan filosofis, memang mengandung sejumlah persamaan, yakni sama-sama mencari kebenaran. Ilmu memiliki tugas melukiskan, sedangkan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan. Aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta. Sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu, dari mana awalnya dan akan ke mana akhirnya.
Berbagai gambaran di atas memperlihatkan bahwa filsafat di satu sisi dapat menjadi pembuka bagi lahirnya ilmu pengetahuan, namun di sisi yang lainnya ia juga dapat berfungsi sebagai cara kerja akhir ilmuwan. “Sombongnya”, filsafat yang sering disebut sebagai induk ilmu pengetahuan (mother of science) dapat menjadi pembuka dan sekaligus

16

ilmu pamungkas keilmuan yang tidak dapat diselesaikan oleh ilmu.


Kenapa demikian? Sebab filsafat dapat merangsang lahirnya sejumlah keinginan dari temuan filosofis melalui berbagai observasi dan eksperimen yang melahirkan berbagai pencabangan ilmu. Realitas juga menunjukan bahwa hampir tidak ada satu cabang ilmu yang lepas dari filsafat atau serendahnya tidak terkait dengan persoalan filsafat. Bahkan untuk kepentingan perkembangan ilmu itu sendiri, lahir suatu disiplin filsafat untuk mengkaji ilmu pengetahuan, pada apa yang disebut sebagai filsafat pengetahuan, yang kemudian berkembang lagi yang melahirkan salah satu cabang yang disebut sebagai filsafat ilmu.

17

BAB III

DEFISI, LINKUP DAN PROBLEM ILSAFAT ILMU

Kelahiran, pertumbuhan dan kekokohan ilmu menimbulkan persoalan yang berada di luar minat,kesempatan atau jangkauan dari ilmuwan sendiri untuk menyelesaikan.Tetapi ada sebagian ilmuwan ialah para filsuf memecahkan persoalan termaksud. Pemikiran filsuf itu mengenai ilmu merupakan filsafat ilmu al. :

Robert Ackermann, Lewis White Beck, A Cornelius Benyamin, Michael V Berry, May Brodbeck, Peter Caws, Alfred Cyril Ewing, Antony Flew, A R Lacey, John Macmurray, D W Theobald, Stephen R Toulmin.

Filsafat Ilmu dalam suatu segi merpakan sebauah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dengan perbandindan terhadap pendapat lampau yang telah dibuktikan , tetapi filsafat ilmu bukan suatu cabang yang bebas dari praktek ilmiah.

Filsafat ilmu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan.

Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukana seluruhnya pengalaman manusia. Di satu pihak membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta sebagai landasan bagi keyakinan dan tindakan, di pihak lain memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai landasan bagi keyakinan atau tindakan termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan.

18

Merupakan ilmu empiris yang teratur menyajikan hasil yang paling mengesankan dari rasionalitas manusia yang merupakan salah satu

dari calon yang diakui terbaik untuk pengetahuan. Berusaha untuk menunjukkan di mana letak rasionalitas itu.

Sampai tahun sembilan puluhan Filsafat Ilmu telah berkembang begitu pesat sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam. Linkup filsafat ilmu oleh para filsuf dewasa ini dikemukakan al :

Peter Angeles, A Cornelius Benjamin, Arthur Danto, Edward Madden, Ernest Nagel, P H Nidditch, Israel Scheffler, J J C Smart,

Marx Wartofsky.

Fifsafat Ilmu merupakan perenungan mengenai konsep dasar, struktur formal, dan metodologi ilmu, sebagai persoalan ontology dan epistemology yang khas bersifat filsafati dengan pembahasan yang memadukan peralatan analitis dari logika modern dan model penyelidikan ilmiah.

Filsafat Ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu dengan linkup al. : melukiskan asal mula dan struktur alam semesta menurut teori-teori dan penemuan-penemuan, menelaah hubungan-hubungan antara faktor-faktor kemasyarakatan dan ide-ide ilmiah, menyelidiki metode umum, bentuk logis, cara penyimpulan serta konsep dasar dari ilmu-ilmu.Memberikan analisis dan metodologis tentang ilmu dan penggunaan ilmu untuk membantu pemecahan problem filsafati. Telaah mengenai berbagai konsep, praanggapan dan metode ilmu dengan analisis, perluasan dan penyusunan untuk memperoleh pengetahuan yang lebih ajeg dan cermat, serta telaah pembenaran menganai proses penalaran dalam ilmu dan kaitan di antara berbagai ilmu.

19

Medan kerja dari filsafat adalah mengembangkan sesuatu cabang ilmu dapat mengarah ke luar sehingga mencapai pembahasan yang semakintehnis dan lebih rumit atau bergerak ke dalam untuk pemahaman yang lebih fundamental dan problem yang amat hakiki.

Filsafat sebagai rangkaian aktivitas dari budi manusia pada dasarnya adalah pemikiran reflektif, budi manusia yang diarahkan untuk menelaah fenomenon-fenomenon tertentu sehingga melahirkan sesuatu ilmu khusus kemudian juga memantul berpikir tentang ilmu khusus ini sehingga menumbuhkan filsafat mengenai sesuatu ilmu.

Filsafat sesuatu ilmu khusus merupakan satu cabang dalam ruang lingkup filsafat ilmu seumumnya. Pertama persoalan-persoalan dalam filsafat ilmu dan kedua problem-problem filsafat pada umumnya.Ada dua gugus persoalan : yakni problem-problem reflektif dalam sesuatu ilmu khusus yang dapat dikatakan membentuk filsafat dari ilmu tersebut dan problem-problem mengenai azas permulaan dan ukuran-ukuran yang berlaku umum bagi semua ilmu.Dikemukakan oleh al :

Cornelius Benjamin, Michael Berry, B. Van Fraassen dan H Margenau, David Hull, Victor Lensen, JJC Smart, Joseph Sneed, Frederick Suppe, DW Theobald, WH Walsh, Walter Waimer, Philip Wiener.

Problem-problem filsafat-seumumnya bilamana digolongkan berkisar pada enam hal pokok yaitu pengetahuan, keberadaan, metode, penyimpulan, moralitas dan keindahan.Berdasarkan enam sasaran tersebut filsafat secara sistematis dibagi yaitu : epistemology (teori pengetahuan), metafisika ( teori mengenai apa yang ada ) metodologi ( studi tentang metode),

20

logika ( teori penyimpilan), etika ( ajaran moralitas) dan estetika ( teori keindahan ).

21

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN


Dengan demikian penulis dapat menyimpulkan bahwa antara ilmu dan filsafat ada persamaan dan perbedaannya.
Perbedaannya ilmu bersifat Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang sedangkan filsafat bersifat priori kesimpulan-kesimpulannya ditarik tanpa pengujian, sebab filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang dimiliki ilmu karena filsafat bersifat spekulatif.


Di samping adanya perbedaan antara ilmu dengan filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran. Ilmu memiliki tugas melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu digerakan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta, sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu dari mana awalnya dan akan ke mana akhirnya.

Seluruh problem Filsafat dapat ditertibkan menjadi :

1. Problem epistemology tentang ilmu

2. Problem metafisis tentang ilmu

3. Problem metodologi tentang ilmu

4. Problem logis tentang ilmu

5. Problem etis tentang ilmu

6. Problem estetis tentang ilmu

22

DAFTAR PUSTAKA

1. The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Liberti,

Yogyakarta,.....

2. C. Verhaalz, Filsafat Ilmu Pengetahuan Telaah Atas

Cara Kerja Ilmu-ilmu, Gramedia , Jakarta,....

3. Sudarto, Metodologi Penelitian Filsafat,..........

4. Jujun Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, Yayasan

Obor Indonesia, .......

23